Ngasal Tapi Niat

Anhedonia, Kondisi Hilangnya Kemampuan Merasa Senang

KamuCariApa – Pernahkah kamu merasa hobi yang dulunya sangat menyenangkan kini terasa hambar? Atau makanan favorit yang biasanya membangkitkan selera kini terasa seperti sekadar pengganjal perut tanpa rasa? Jika pernah, kamu mungkin sedang mengalami anhedonia, fenomena hilangnya kemampuan untuk merasakan kesenangan.

Anhedonia bukan sekadar perasaan “sedang malas” atau bosan biasa. Kondisi ini umumnya dikenali sebagai perilaku emosional yang membuat warna-warna dalam hidup seolah memudar menjadi abu-abu. Seseorang yang mengalami anhedonia sering merasa seolah-olah sistem “kesenangan” di dalam otaknya sedang mati suri, membuat momen-momen yang biasanya dirasa indah menjadi terasa datar atau bahkan hampa.

Nah, buat kamu yang mungkin ingin mengetahui lebih jauh tentang anhedonia, artikel ini akan membahasnya secara tuntas. Simak sampai habis, ya!

Apa itu Anhedonia?

anhedonia
ilustrasi anhedonia (Gambar: Pexels)

Anhedonia adalah sebuah fenomena berupa kesulitan untuk merasakan kegembiraan atau kesenangan. Pengidap biasanya cenderung merasa mati rasa atau kurang tertarik pada hal-hal yang dulu sebenarnya sangat dinikmati.

Melansir Cleveland Clinic, anhedonia bahkan disebutkan sebagai gejala umum dari banyak kondisi kesehatan mental seperti depresi. Sebuah studi menunjukkan bahwa hal itu dapat disebabkan oleh kurangnya aktivitas di striatum ventral otak yang berada di atas dan di belakang telinga.

Area tersebut berisi “pusat kesenangan” yang tugas umumnya menerima dan memproduksi dopamin. Nah, dopamin ini sendiri adalah hormon “penyebab perasaan senang”. Perubahan aktivitas di area otak itu mungkin memengaruhi perasaanmu dalam merasakan sesuatu yang sifatnya kesenangan atau kegembiraan.

Singkatnya, ketika mengalami anhedonia, kamu tidak lagi merasakan apa pun terhadap sesuatu yang dulunya cukup dinikmati. Terasa seperti ada kekosongan di tempat tersebut, namun tidak bisa dijelaskan secara pasti penyebabnya.

Jenis-jenis Anhedonia

Secara garis besar, para ahli membagi anhedonia ke dalam dua kategori utama, yakni sosial dan fisik. Apa saja bedanya?

1. Anhedonia Sosial

Kondisi ini terjadi ketika kamu tidak lagi menemukan kegembiraan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kamu mungkin mulai menarik diri dari lingkaran pertemanan, merasa bahwa mengobrol adalah beban dan lebih memilih mengisolasi diri. Singkatnya, bersosialisasi mungkin tidak lagi memberikan kepuasan emosional.

2. Anhedonia Fisik

Kondisi ini berkaitan dengan sensasi indrawi. Makan makanan lezat, mendengarkan musik favorit, atau bahkan sentuhan fisik dari orang tersayang tidak lagi memicu rasa senang. Tubuh seolah kehilangan sensitivitas terhadap hal-hal yang biasanya memicu pelepasan hormon kebahagiaan.

Kenapa Terjadi Anhedonia?

Anhedonia bukanlah sebuah kondisi yang berdiri sendiri. Sebaliknya, fenomena tersebut muncul menjadi bagian gejala dari kondisi lain. Penyebab paling umum adalah depresi, namun bisa juga muncul pada penderita gangguan kecemasan, skizofrenia, dan lainnya.

Lagi, secara biologis penyebab anhedonia mungkin berkaitan erat dengan Dopamin, zat kimia di otak yang bertanggung jawab atas rasa senang. Pada orang dengan anhedonia, sirkuit dopamin ini mengalami hambatan, sehingga kinerjanya menjadi terganggu atau rusak.

Selain faktor biologis, ada pula anggapan bahwa gaya hidup modern yang menuntut produktivitas tanpa henti juga bisa memicunya. Siklus serba cepat yang terjadi sekarang dapat menjadikan seseorang burnout dan sering berujung pada kelelahan emosional, lalu menjadi anhedonia.

Lanjut, ada lagi beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang berisiko mengalami anhedonia. Di antaranya mungkin pernah mengalami peristiwa traumatis, efek samping obat-obatan hingga konsumsi alkohol berlebihan.

BACA JUGA: Kenapa Makan Bubur Ayam Bikin Cepat Lapar Lagi? Ini Penyebabnya

Bagaimana Cara Memulihkan Diri dari Anhedonia?

Sayangnya, memang tidak ada cara pasti untuk mencegah anhedonia. Namun, kamu bisa mencoba untuk memulihkannya dengan sejumlah hal.

1. Behavioral Activation

Teknik ini mengajak kamu agar tetap melakukan aktivitas yang biasanya disukai, meskipun saat ini mungkin tidak merasa ingin melakukannya. Tujuannya bukan untuk langsung merasa senang, melainkan untuk menjaga jalur saraf di otak tetap aktif hingga perlahan-lahan perasaan itu kembali.

2. Mengelola Stres dan Pola Hidup

Hal-hal mendasar seperti tidur yang cukup, olahraga ringan, dan asupan nutrisi yang baik memiliki dampak langsung pada produksi hormon kebahagiaan. Terkadang, mengistirahatkan tubuh dari stimulasi berlebih (seperti scrolling media sosial) juga membantu otak melakukan kalibrasi ulang terhadap rasa senang.

3. Mencari Bantuan Profesional

Nah, jika dirasa sudah mengganggu, kamu bisa berbicara dengan psikolog atau psikiater. Sebab, anhedonia sering terkait dengan masalah psikologi yang perlu ditangani lebih jauh. Bantuan ahli dapat memberikan diagnosis yang tepat, baik melalui terapi wicara (seperti CBT) atau medikasi jika diperlukan.

Jadi, bisa dipahami bahwa anhedonia adalah sebuah fenomena berupa kesulitan atau ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan. Kita bisa menjadikannya pengingat bahwa kapasitas diri untuk merasakan kebahagiaan adalah aset berharga. Bersama penanganan yang tepat dan kesabaran terhadap diri sendiri, warna-warna dalam hidup itu perlahan-lahan bisa kembali hadir, segera!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *