Cerita Gak Jelas

Jika Tau Besok Mati, Hari Ini Mau Apa?

KamuCariApa? – Suatu sore di penghujung pekan, seorang pemuda tanggung tengah memandang langit dengan tatapan sayu. Beni, itulah panggilan yang sering digunakan orang-orang terdekat saat menyapanya.

Beni tau, akhir-akhir ini ia memang sering termenung, bahkan tanpa sebab sekali pun. Wajahnya mungkin tenang, namun di balik itu, ada sebuah pergolakan yang tengah terjadi di hatinya.

Meski hanya sebatas melamun di depan jalanan dengan ditemani segelas kopi yang dibelinya dari pedagang keliling, itu sudah cukup buat Beni. Baginya, hal ini menjadi anugerah yang tak semua orang dapat merasakannya.

Tiba-tiba, Beni tersadar dari lamunannya. Ia merasa mendengar suara seseorang memanggilnya dengan samar dari kejauhan.

“Ben.., kok diam saja tak panggil dari tadi? Melamun kok jam segini.” Ucap sosok misterius yang perlahan mulai menghampirinya.

Sejurus kemudian, Beni sadar orang di depannya itu adalah Mikey, teman sekolahnya dulu yang kini kerja di sebuah rumah sakit lokal. Ia mendadak pangling karena sudah cukup lama tak melihatnya.

“Oi Mike, sorry tak kira siapa. Libur kerja?” Jawab Beni sambil bangun dari duduknya dan mengajak teman lamanya itu salaman.

Mikey tak langsung menjawab. Ia jongkok di samping Beni, kemudian mengeluarkan bungkus rokok merek ‘Tolak Miskin’. Ia ambil satu batang, lalu menyulutnya.

Setelah isapan pertama, Mikey mulai memandang Beni. Tanpa menjawab pertanyaan tadi, ia justru seperti mengalihkan pembicaraan.

“Kok kamu sepertinya tambah subur.” Tanya Mikey sambil bangun dan menepuk pundak Beni.

Mendapati pertanyaan itu, Beni bingung maksud Mikey ini basa-basi atau memang mengejeknya. Ia sadar sejak dulu memang sering dibilang gendut oleh teman-temannya.

“Ya biasa aja, gini gini aja lah.” Jawab Beni dengan nada polosnya.

Tak lama berlalu, Mikey berjalan menjauh. Ia kemudian langsung pergi dan hanya mengucapkan “Sampai jumpa”.

Beni awalnya merasa heran. Hanya saja, ia menganggap Mikey mungkin punya urusan mendadak, sehingga langsung pergi.

Beni akhirnya kembali berjongkok di tempat yang sama. Sambil menyeruput sisa kopinya, ia kembali termenung selama beberapa waktu. Bedanya, kali ini tak melihat ke langit, tetapi ke jalanan di depannya.

Dalam lamunannya, lagi-lagi Beni diganggu dengan suara seseorang yang seakan memanggilnya.

“Woi! Ngapain kau melamun kaya orang gila ben. Hahahaha” Ucap sosok misterius yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

Beni awalnya kaget. Namun, ia sadar orang di sebelahnya itu tak lain adalah Koko, teman sekolahnya juga saat SD sampai SMP, seperti Mikey.

“Anjir, tak kira siapa. Dari mana aja kau ko? Kok sendirian, biasanya jalan jalan sama istri dan anakmu?, tanya Beni.

Koko tak menjawab pertanyaan Beni. Sejenak diam, ia lalu mengalihkan pembicaraan dengan membahas topik lain.

“Aku dulu sekolah ga pinter-pinter amat. Coba kalo pinter, mungkin aku bisa kerja kaya mereka-mereka itu”. Ungkap Koko sambil menunjuk orang-orang di jalanan yang baru saja pulang kerja.

Tak sampai lima menit, Koko pergi. Tanpa sepatah kalimat, ia hanya menepuk pundak Beni, lalu pergi begitu saja.

Mendapati hari yang semakin sore, Beni sebenarnya mau pulang. Namun, tiba-tiba ada lagi yang memanggil namanya.

“Ben, ahh benar kan kau Beni?” Tanya orang itu.

Beni langsung tau orang di depannya itu adalah Sara, teman masa kuliah yang dulu pernah ditaksir. Tanpa ragu, ia membalas sapaannya dengan hangat.

“Lah Sara, gimana kabarmu? Lama ga ketemu ya, hehehe.” Tanya Beni.

“Katanya dulu kamu ikut kerja orang tua ke luar negeri, pulang ke sini kapan?” Sambung Beni.

Sara tak lantas menjawab pertanyaan Beni. Sambil bersandar di tembok belakangnya, ia nyeletuk ingin makan mie dok-dok.

“Hmm, makan malam kayaknya enak beli mie dok-dok. Kamu dah makan ben?” Tanya balik Sara.

Belum sempat Beni menjawab, Sara lebih dulu melanjutkan langkahnya dan beranjak pergi.

Ia cuma mengucap “Pulanglah ben, sudah mau waktunya (magrib)”.

Setelah Sara pergi, Beni merasa aneh. Ia tak habis pikir bisa bertemu kenalan-kenalan lamanya, dalam waktu yang super singkat dan tanpa pembicaraan yang jelas.

Bergegaslah Beni pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari tempat nongkrong favoritnya tadi. Ia tak langsung masuk kamar, namun pergi ambil wudhu dan melakukan pertemuan rutin di waktu magrib bersama Tuhan-Nya.

Seperti biasa, Beni menyempatkan diri untuk berdoa meski sepatah atau dua patah kata. Namun, ada yang baru dalam doanya kali ini.

Jika biasanya meminta untuk dimudahkan segala urusannya, kini Beni menambahkan permohonan agar diberi karier yang sukses dan limpahan kekayaan. Katanya, ia ingin menjadi orang sukses sekaligus kaya agar bisa membahagiakan keluarga serta orang-orang yang dicintainya.

Beranjak dari pertemuan privatnya dengan Tuhan, Beni tak langsung ke kamar. Ia menuju dapur dan bertemu adiknya yang sedang memasak mie instan.

“Makan mas? Ada beli mie enak aku tadi itu, kalo mau ambil saja.” Kata adik Beni yang bernama Sidrap.

“Gak lah, masih kenyang aku.” Jawab Beni sambil meneguk segelas air putih yang diambilnya dari panci.

Saat hendak beranjak pergi, Sidrap memanggilnya lagi dan mengatakan jika kenalan ayahnya tadi datang ke rumah. Tak langsung menjawab, Beni memilih langsung pergi menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, Beni langsung merobohkan dirinya ke kasur. Sambil menghela napas panjang, ia menduga bahwa kenalan ayahnya yang datang pasti lagi-lagi bicara soal utang.

“Aku kira-kira bisa kaya (banyak uang) engga ya besok? Kayaknya banyak duit enak juga kaya orang-orang”, Celetuk Beni sambil tersenyum dengan getir.

Sejenak berpikir, Beni meraih ponselnya yang berada di kantong. Seperti biasa, ia menyempatkan diri untuk buka media sosial populer kekinian, yakni Indogram.

Bagi Beni, aktivitas buka medsos semacam ini tak dianggapnya buang-buang waktu. Sebab, ia tidak suka dengan statement salah seorang influencer yang kerap bilang buka medsos adalah kegiatan tak bermanfaat yang hanya buang waktu.

Menurut Beni, medsos ini bisa dibilang sebagai sarana hiburan instan. Di sana, ia bisa melihat banyak hal, dari postingan aktris Korea idolanya hingga unggahan story teman-temannya yang sering pamer aktivitas di luar sana.

Tak jarang, Beni menjumpai unggahan temannya yang bikin terheran. Ada di antaranya pamer borong tiket kereta satu gerbong, kemudian ada lagi sedang nonton konser band terkenal hingga ada juga yang sebatas foto di depan kaca tempat kerja sambil pegang kopi kekinian.

Semua itu adalah pemandangan biasa buat Beni. Meski awalnya sempat merasa sesak, kini ia mulai terbiasa.

Beranjak dari Indogram, Beni lalu membuka TokTik, aplikasi medsos lain yang tak kalah populer. Setelah dijejali pencapaian teman-temannya, di sini ia menemukan hal berbeda.

Beni dalam FYP-nya sering mendapat rekomendasi video berisikan kesuksesan orang-orang di luar sana. Ada yang katanya dapat ratusan juta dari jualan produk digital, ada yang dapat gaji 2 digit dengan kerja freelance hingga mereka yang setiap paginya menyandang lanyard perusahaan kenamaan.

Lagi, hal demikian sudah menjadi pemandangan biasa untuk Beni. Ia bahkan dapat menduga isi komentar postingan tersebut pasti dipenuhi permintaan “Tutor kak”.

Selesai dari TokTik, Beni beralih ke aplikasi LongInd. Nah, platform ini isinya beda lagi. Meski dikenali sebagai aplikasi jobseeker, Beni punya pandangan sendiri tentang LongInd. Tak cuma cari loker, ia sering ditemui postingan-postingan penguna yang sebenarnya tak cari kerja, namun lebih ke arah cari validasi atau malah caper.

Di satu sisi, Beni tahu benar bahwa LongInd jelas bermanfaat baginya untuk mencari info loker. Akan tetapi, di luar itu ia sering menjumpai pengguna yang menurutnya hanya ngomong seenak jidat tanpa memikirkan orang yang mungkin baca postingannya.

Tak terasa, waktu berlalu cepat hingga azan isya berkumandang. Beni bangun dari tidurnya dan menuju tempat pertemuan.

Ada alasan menarik yang membuat Beni sekarang selalu bersemangat untuk memenuhi panggilan Tuhan-nya. Di satu sisi, ia ikhlas mengerjakan karena memang itu salah satu kewajiban dalam agamanya.

Namun, di luar itu Beni kini menganggap setiap pertemuan dengan Tuhan-nya sangat penting. Alasannya karena siapa tahu momen ini adalah kali terakhir dirinya bisa bersujud di hadapan-Nya.

Jika tahu hari ini akan mati, Beni cuma punya satu permintaan. Terlepas dari apa pun keluhan yang dia miliki selama ini, ia hanya ingin mati dalam keadaan berdamai dengan penciptanya.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *