Besok Ke Mana Lagi Ya?
"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti tetap menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada-Nya (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."" (QS Al Jumuah: 8)
KamuCariApa? – Katanya, takdir seorang manusia telah diatur oleh Sang Pencipta. Mulai dari rezeki, jodoh hingga kematian, semuanya sudah tertulis. Jadi, hanya perlu menunggu kapan datang waktunya masing-masing. Bisa jadi, hari ini kita dapat rezeki melimpah. Bisa juga esok kita dipertemukan dengan jodoh. Bahkan, bisa juga hari ini adalah momen terakhir hidup di dunia.
Kalimat di atas aku dapatkan dari sebuah ceramah salah satu ustaz favoritku di media sosial. Tentu, aku percaya ucapanya selama itu memang masuk ajaran agamaku.
Oiya, kenalkan namaku Luck. Dalam bahasa Inggris, artinya mungkin “Keberuntungan”. Namun, bukan itu arti namaku.
Ya, aku sebenarnya tak tau pasti arti nama pemberian ini. Tapi, ibuku bilang bahwa nama itu diambil bapak dari salah satu karakter anime yang pernah ditontonnya. Aneh sekali bukan?
Biarlah, apa pun arti atau makna dari nama itu, bagiku tak ada hubungannya dengan hidupku saat ini.
Tahun ini usiaku menginjak 29 tahun, hampir kepala tiga. Memang sama sekali tak terasa bisa secepat itu, padahal aku belum punya apa pun di umur sekarang.
Rumah saja masih menumpang orang tua. Jangan tanya pacar, pekerjaan pun aku sekarang tidak punya.
Keseharianku pun terasa berlalu begitu saja. Bangun pagi, mandi, bertamu ke Tuhan, bikin kopi, buka portal job.
Harapannya selalu sama. “Semoga hari ini ada kabar baik”.
Saat asyik melihat pajangan lowongan yang semakin absurd, ponselku berbunyi. Ada telepon masuk dari nomor tak dikenal. Siapa tau HR perusahaan yang aku lamar, jadi kuangkat saja.
“Luck, kau dimana sekarang?” tanya seseorang yang tiba-tiba menelponku dengan nomor baru.
“Kau siapa?” tanyaku saat menjawab pertanyaan penelepon misterius itu.
“Apalah kau ini, sama temen sendiri tak kenal atau sok lupa. Hahaha” jawabnya sambil tertawa cukup kencang.
Dari suara ketawa itu, baru aku sadar, penelepon misterius ini adalah Fuhah, teman kuliahku dulu.
Sejak lulus, aku memang sangat jarang berkomunikasi dengannya. Terakhir kali mungkin waktu membahas rencana reuni beberapa tahun lalu.
“Walahhhh, Fuhah ternyata, hahaha” ucapku membalas tawanya.
“Cukup dulu ketawanya, aku lagi di daerah deket rumahmu. Ayo ketemu.” ujarnya.
Menanggapi permintaan Fuhah, aku sebenarnya agak bimbang. Bukan hanya karena uangku yang sudah menipis, namun juga takut dihina karena sedang nganggur.
Bahkan, aku sempat ingin beralasan tak enak badan. Namun, sebelum mengatakannya, Fuhah seakan sudah memprediksinya.
“Ga perlu khawatir, aku cuma pengin ketemu dan ngobrol aja. Aku ga bakal bahas aneh-aneh” ucap Fuhah sembari meyakinkanku.
Awalnya, aku ingin datang. Namun, ada perasaan aneh yang mencegahku untuk pergi.
“Sorry bro, mungkin lain waktu. Aku sedang ada urusan di rumah” jawabku lirih.
Mendengar penolakanku, Fuhah tak marah. Ia berusaha memakluminya meski agak kecewa.
“Yaudahlah, next time ya. Semoga kau sehat selalu” ucapnya sebelum menutup telepon.
Jika melihat ke belakang, selama kurang lebih 7 bulan nganggur, aku memang seakan menarik diri. Semuanya aku lakukan untuk menghindari hal yang mungkin mengganggu fokusku dalam mencari pekerjaan baru.
Anehnya, mengucilkan diri sendiri terkadang justru lebih banyak gak enaknya. Selain tertekan dari masalah utama, muncul rasa takut dan khawatir bahwa aku nantinya tak akan punya teman lagi.
“Huh, sampai kapan ya..” gumamku dalam hati.
Jujur saja, periode beberapa bulan ke belakang adalah fase berat untukku. Setelah kehilangan kerja, aku cukup kesulitan mendapatkan kesempatan yang lain.
Padahal, rasanya usahaku sudah meningkat pesat. CV sudah diperbaiki, bahkan punya versi bahasa Inggris juga.
Portofolio juga sudah dibuat, bahkan termasuk dengan gaya kekinian ala Gen Z. Belum lagi, aku rela mendaftar posisi entry level meski pengalamanku sebenarnya sudah tahunan.
Memang, ada kalanya seseorang harus beristirahat dari kesibukan dunia. Mungkin, fase nganggur ini menjadi salah satu bentuk istirahat itu sendiri.
Masih terpikirkan penolakan terhadap ajakan Fuhah, aku berusaha mengalihkan fokus untuk melamar lebih banyak lagi. Jika biasanya aku melamar posisi sesuai pengalaman, kini kucoba juga job lain, bahkan yang sebenarnya tak ada relevansinya dengan latar belakangku. Ya siapa tahu ada yang mau menerimaku.
Setelah mencoba beberapa lamaran, kuputuskan untuk istirahat sejenak. Seperti biasa, aku mencoba buka medsos untuk mencari hiburan.
Apes, posting pertama yang muncul adalah tentang temanku yang baru mendapat SK CPNS.
Ada lagi kenalanku yang mengunggah foto di depan cermin bersama kopi kekinian di tangannya.
Jujur saja, aku sebenernya selalu berusaha untuk tak merasa iri dengan pencapaian orang lain. Tapi, kondisi sulit seperti sekarang terkadang memunculkan banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku.
Bukan merasa paling tersakiti, aku kerap bertanya-tanya kenapa mereka bisa kerja di tempat bagus, di kota, kadang bisa ketemu artis, dan satu lagi, gajinya besar.
Sedangkan aku, usai terlempar dari kantor sebelumnya, sulit mendapat ganti. Padahal aku cukup percaya diri dengan kemampuan dan performa kerjaku.
Tentu, aku memang tak sendiri. Beberapa temanku yang dulu sama-sama dilempar dari kantor lama ikut senasib.
Beberapa waktu lalu, aku sempat bertemu. Mereka bernama Gordon dan Gobang.
Saat kutanya kondisi mereka, tak banyak yang bisa diungkap. Intinya, keduanya sama-sama ikut mengalami fase sulit.
“Sebulan, aku cuma ada 1 panggilan interview. Itu pun langsung di ghosting” ucap Gordon sambil tertawa miris.
“Kalo aku sehari minimal 20 lamaran, seminggu full bisa 140 lamaran. Alhamdulillah, ada 3 panggilan interview meski hilang kabar juga, hehehe” sambung Gobang yang tak mau kalah.
Melihat kondisi dua temanku itu, aku sebenarnya juga sadar bahwa kondisi saat ini semua serba sulit. Bukan cuma aku, mungkin ada lebih banyak orang yang sedang menunggu kesempatan di luar sana, bahkan dengan kondisi yang lebih buruk.
Entah waktu yang semakin cepat atau pergerakanku yang melambat, aku hanya merasa seperti tertinggal. Aku bahkan sudah cukup bingung dan selalu bertanya setiap menjelang tidur, “Besok apply ke mana lagi ya?”.
“Plakk” tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dengan lirih
Agak kaget, tetapi tepukan itu justru membalikkan kesadaranku dari lamunan tadi.
“KTP-nya mana mas? tanya petugas di depanku
“Oh iya sebentar” jawabku sambil merogoh dompet untuk mengambil KTP
Tanpa sadar, ternyata sudah banyak orang antre di belakangku. Aku pun bertanya-tanya, “Aku melamun berapa lama tadi ya?”.
Oiya, hai namaku Luck. Aku tahun ini sudah masuk usia 30 tahun. Hari ini aku mau pulang naik kereta. Ya, kemarin aku datang jauh-jauh dari kampung halaman ke ibu kota untuk tugas mulia, yaitu interview kerja.
Kenapa aku bilang tugas mulia? Alasannya mungkin karena aku memang sedang butuh pekerjaan.
Biasanya aku lebih sering meminta atau nego buat interview online, terutama kalau masih tahap awal. Namun, sedikit beda kali ini di mana aku memutuskan bersedia langsung interview onsite. Menurutku karena posisi yang aku lamar ini cukup menjanjikan peluang diterimanya.
Dengan bekal seadanya, aku berangkat dengan perasaan yang sebenarnya tak bisa diutarakan. Bukan cemas atau senang berlebihan, rasa aneh ini coba kulawan saja. Harapannya si semoga bukan beneran bad feeling.
BACA JUGA: Jika Tau Besok Mati, Hari Ini Mau Apa?
Jarak tempat tinggalku ke ibu kota bisa dibilang lumayan jauh kalau menurutku yang jarang bepergian. Dengan moda transportasi kereta api modern, perjalannya bisa mencapai sekitar 6 jam. Tapi ini kelas eksekutif, karena temanku bilang untuk tiket kelas ekonomi bisa dua kali lipat lamanya.
Sampai di ibu kota, aku niatnya mau langsung pergi ke perusahaan yang dituju. Hanya, karena waktunya masih terlalu pagi dari jadwal, aku memutuskan untuk menepi sebentar dan beli kopi di pedagang kaki lima.
“Mas, kopi susu satu ya” ucapku ke pedagang di sana.
“Siap bos, meluncur!” jawab pedagang itu dengan semringah
Sambil menunggu kopiku datang, sejenak kupandangi keadaan sekitar. Penuh dengan gedung-gedung besar dan jalanan padat pengendara, pemandangan ini mirip di film-film yang sering muncul di internet.
Namun, anehnya aku justru tampak biasa saja. Entah karena memang sudah terbiasa melihatnya di status media sosial temanku atau memang ekspektasiku yang berlebihan, rasanya pemandangan di sekitarku ini tak terlalu istimewa.
“Kiww, kopi susu datang bos” ucap pedagang sambil membawakan pesananku.
Tanpa basa-basi, langsung kuseruput kopi yang masih panas ini. Ternyata, rasanya sama saja. Bedanya mungkin aku menikmatinya di pelataran gedung-gedung besar ibu kota ini.
“Mas, kamu ini pendatang ya” tanya pedagang kopi tadi.
“Bukan resmi pendatang juga si, aku cuma datang mau interview mas, itu di komplek seberang sana” jawabku.
Panjang lebar mengobrol, ada hal mengejutkan yang kudengar dari pedagang kopi ini. Katanya, perusahaan yang bakal kudatangi untuk interview itu sudah bangkrut setahun yang lalu.
“Loh, bukannya perusahaan itu udah bangkrut tahun lalu mas, beritanya viral di mana mana kok”
Sejenak, aku tertegun. Namun, aku juga tak lantas percaya begitu saja. Niatnya, mau kuberi tahu pedagang kopi itu bukti undangan interview-nya.
Anehnya, saat ku buka HP dan cek email, pesan undangan itu menghilang. Tak langsung mau ambil kesimpulan, terus kucari pesannya, barangkali nyelip ke kolom spam atau tempat sampah. Namun, tak ada hasilnya juga.
“Terus kalau udah bangkrut, kemarin aku dapat undangan interview dari siapa ya mas?” tanyaku dengan bingung.
Pedagang kopi itu juga sama-sama bingung. Namun, ada hal yang lebih mengejutkan. Ponselku tiba-tiba berdering dan itu berasal dari panggilan perusahaan yang aku tuju. Tanpa ragu, langsung kujawab…
“Mas.. mas.. halo…” ucap lirih seseorang di depanku yang langsung menyadarkan lamunanku
“Ya ya gimana dok?” tanyaku
“Syukurlah, saya kira kamu kenapa kok tidak menjawab” ucap dokter di depanku.
Aneh sekali dokter satu ini. Katanya, sedari tadi aku melamun dan tak menjawab ketika dipanggil. Oiya, hai namaku Luck. Aku tahun ini sudah masuk usia 31 tahun.
Hari ini aku ada jadwal spesial untuk bertemu dokter. Aku sebenarnya ga tau dan tak merasa sakit apa pun, cuma ya dokter ini direkomendasikan buatku.
Jujur, ketika ditanya keluhan, jelas aku bingung. Aku sama sekali tak merasa punya keluhan medis dan merasa semuanya ya baik baik saja.
Akhirnya, dokter itu cuma mengajak mengobrol santai. Dari pembicaraan panjang lebar, ia sempat menjelaskan adanya kondisi bernama Ruminative thinking. Kalau menurut AI di Google, istilahnya mengacu ke kondisi di mana seseorang berpikir secara berulang-ulang, mendalam, dan terus-menerus terhadap suatu masalah, kegagalan, atau perasaan negatif, dan tanpa adanya solusi atau kejelasan. Salah satu karakteristiknya adalah mengulang-ulang kenangan buruk, kesalahan masa lalu, atau kekhawatiran yang sebenarnya mungkin sudah pernah dilewati.
Dari pembahasan itu, aku tersadar dan bertanya-tanya. Dokter ini tak bilang aku terkena gangguan Ruminative thinking kan?
“Dok, maksudnya kamu ngasih tau Ruminative thinking ini buat apa? Kamu ga bilang aku kena gangguan itu kan” tanyaku dengan bingung.
“No. Saya ga memvonis kamu apa pun kok. Saya cuma sedang bercerita saja, tetapi kalau memang kamu merasa kondisinya mirip ya siapa yang tahu? jawab dokter tadi.
Jawabannya benar-benar bikin kesal. Bukan cuma tak jelas, bagaimana bisa seorang dokter asal ngomong begitu di depan pelanggannya. Dunia ini rasanya sudah benar-benar rusak!
Tiba-tiba, ada seseorang perawat masuk.
“Saudara Luck, sesi Anda sudah selesai ya. Silahkan ikuti saya untuk penanganan berikutnya.” ucapnya dengan lembut.
Aku tak lantas menjawab, tetapi juga ingin segera pergi. Terlebih, si dokter tadi seakan memasang senyum palsu yang bikin merinding. Sebelum pergi, sebenarnya ingin kuludahi saja dokter itu.
“Bang.. bangun bang.. HP kau bunyi terus itu” ucap seseorang yang langsung membangunkanku dari tidur.
Ternyata, itu adikku. Ia membangunkanku lantaran HP milikku terus berbunyi sedari tadi. Ya mungkin aku terlalu nyaman tidur, sampai sampai suara ponsel pun tak bisa mengganggu.
Oiya, hai namaku Luck. Aku tahun ini sudah masuk usia 32 tahun. Di usia ini, sebenarnya ga ada yang spesial. Semuanya biasa saja. Ya bangun tidur, ibadah, makan, kerja, tidur lagi.
Saat kucoba cek ponsel tadi, ternyata rentetan panggilan tadi didapat dari nomor tak dikenal. Selain itu, ternyata nomor itu juga mengirim pesan dan isinya undangan interview kerja. Tapi aku agak lupa karena belakangan ini memang cukup banyak mengirim lamaran.
Saat kubuka undangannya dan baca dengan seksama, ada sedikit perasaan dejavu. Entah dulu pernah melamar ke perusahaan yang sama atau memang momen ini sudah pernah terjadi, timbul perasaan aneh yang tak bisa kujelaskan…
Tamat.
